Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Penjagal Mayat

Mayat itu tanpa kepala. Terbaring kaku semacam pohon pualam yang ditebang seseorang. Entah siapa yang tega menggorok lehernya, lalu mengambil kepalanya entah kemana. Dari kerongkongannya mengucur darah. Kain kafannya menjadi merah. Seolah mayat itu belum lama digorok dari liang lahat. Padahal, baru pagi tadi jenazahnya dikebumikan dengan tubuh yang sempurna. Namun ketika malam tiba, seorang penggali kubur melihat tanah pekuburannya menjadi berantakan, seperti telah digali seseorang dengan sangat tergesa. Seantero pemakaman mendadak dibanjiri manusia. Mereka penasaran ingin melihat dengan mata kepala sendiri keadaan mayat itu.

“Sungguh biadab!” rutuk Mbah Darto, kakek dari mayat itu yang bernama Tole. “Tole.. Tole.. Malang sekali nasibmu nak.” lanjutnya dengan jerit yang membelah langit.

Langit sedikit berkarat. Malam begitu dingin. Bulan purnama melotot manyaksikan kerumunan orang-orang di pemakaman. Mereka saling sikut, saling senggol, saling dorong memaksa menyeruak masuk kerumunan untuk melihat mayat itu. Berbeda dengan Mbah Darto yang tak tahan melihatnya (Ah, bagaimana bisa ia berlama-lama menyaksikan kondisi cucu kesayangannya yang mengenaskan: tubuh anak kecil tanpa kepala).

Dengan susah payah Mbah Darto pun keluar dari kerumunan. Sepertinya tak ada yang peduli pada kesedihan yang menghujam batinnya. Semua orang hanya terfokus pada satu tanah pekuburan dengan rasa penasaran. Sedangkan Mbah Darto, megap-megap menahan amarah yang hendak tumpah, kemudian tertunduk sendirian merapatkan punggung pada pohon kenanga sambil meremas rambut yang telah beruban. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya sebagai rasa kekesalan entah pada siapa. Mbah Darto tak tahu siapa gerangan bangsat yang tak punya hati mengambil kepala cucunya itu. Ia hanya menatap nanar pada lingkup kerumunan, lalu dari balik matanya mengalir sungai. Semakin lama semakin deras.

Tak lama setelah itu, Lik Muji―ayah dari mayat itu―menyusul muncul dari balik kerumunan. Dengan tatapan penuh amarah, sorot matanya mengobarkan tarian api yang membara, seakan menahan buncah, lalu menghampiri Mbah Darto dan memukulnya dengan tangan mengepal, menumpahkan dendam yang telah lama terpendam. Begitu geram. Tanpa rasa iba sedikitpun, ia memukul Mbah Darto hingga tubuh kurusnya tersungkur menggebrak tanah. Kepalanya tercatuk batu. Berdarah. Mbah Darto mengerang dengan airmata di kedua pipinya. Darah segar pun mengalir dari kepala melewati pipinya. Seolah terlihat sedang nangis darah.

“Mbah bawa kemana kepala Tole!” bentak Lik Muji.

“Untuk apa Mbah dengan kepala cucuku itu?” jawab Mbah Darto dengan suara parau.

“Sudahlah, jangan banyak alasan lagi, pasti Mbah jadikan tumbal ilmu santet kan!”

Mendengar ucapan yang menyalak dari anaknya itu, tersentaklah hati Mbah Darto, perasaannya langsung lumpuh seketika. Ia belum siap bila harus menerima lontaran yang begitu tajam. Tidak. Ia tak akan pernah siap. Tatapannya sayu mengisyaratkan betapa semakin perih hatinya. Seperti disayat silet. Silet yang kini terjepit di antara kedua bibir Lik Muji. Bagaimana tidak menyayat hati, bila anak sematawayangnya kini begitu membencinya. Semua menganggap Mbah Dartolah yang mengambil kepala Tole. Belum lagi ia dituduh telah menggantung dan mengikat kuat-kuat leher cucunya itu pada pohon mangga belakang rumah; pastilah dibunuh, mengingat sungguh tak mungkin bila anak kecil melakukan gantung diri.

Bukan masalah itu saja. Bukan masalah fitnah; dugaan-dugaan; kabar burung orang-orang yang tak pernah jelas asal muasalnya. Sebenarnya Mbah Darto tak pernah mempermasalahkan fitnah yang dituduhkan padanya. Tapi ia tak ingin anaknya menjadi beringas terhadap ayah kandung sendiri. Tak ada dalam sejarah bila orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi durhaka. Mbah Darto tak ingin hal itu menimpa Lik Muji.

Lik Muji, sifatnya mulai berubah ketika tiga bulan lalu Mak Rat meninggal dunia. Tak terelakan lagi perasaan kecewanya bila ternyata ibunya itu diduga mati gantung diri. Pada malam kematian Mak Rat orang-orang begitu gempar, tanah pekuburan Mak Rat mendadak rancak, seperti telah dibongkar entah oleh siapa. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketika orang-orang memutuskan melakukan penggalian ulang tanah pekuburan Mak Rat untuk memastikan kondisi mayatnya, alangkah terkejut bukan main bila ternyata mayat itu sudah tidak ada kepalanya.

Semenjak kejadian itu, nama Mbah Darto pun menjadi buah bibir, selalu diperbincangkan orang-orang: entah itu ketika sedang berladang, atau sepulang dari menyadap getah karet, bahkan pada perbincangan di warung-warung kopi, di jalan-jalan, di rumah-rumah warga, seolah menjadi makanan terhangat setiap hari yang tak pernah bosan dilahap. Bila ada warga yang kebetulan berpapasan di jalan dengan warga lainnya, maka yang akan ditanyakan pasti berkisar perihal Mbah Darto.

Sampeyan tahu Mak Rat? Sebetulnya bukan mati gantung diri, tapi dibunuh kemudian digantung seperti menjemur pakaian saja oleh suaminya, si Mbah Darto bajingan tua itu!”

“Jangan menyimpan prasangka, omongan Sampeyan itu masih belum terbukti juga kan?”

“Owalah dalah… Sampeyan tak percaya toh? Potong saja julur lidah ini kalau saya hanya membual!”

Atau ada juga yang seperti ini, “Malam tadi kepala mayat Mak Rat hilang karena dijadikan tumbal ilmu santet Mbah Darto loh.”

“Kayaknya sih begitu. Tak disangka, dalam hati Mbah Darto bersemayam iblis. Kejam sekali orang itu, huh!” timpal yang lain.

Begitulah. Itulah alasan kenapa Lik Muji begitu membenci Mbah Darto, dan berujung pada ketidaksudian menganggap bahwa Mbah Darto ayah kandungnya sendiri, seiring dengan merambatnya dugaan-dugaan bahwa Mbah Darto manusia berhati iblis. Hingga bagaimana awal mula gelar itu bisa melekat pada namanya: dukun santet, penjagal mayat—pencuri kepala mayat keluarganya sendiri.

***

Ada paku bersarang di dalam tubuh Wak Akom. Pagi-pagi sekali, ia menjerit meringis kesakitan, menyambat apa saja sambil menyisipkan nama Mbah Darto. Ia bilang, sepertinya ada sebuah benda tajam yang menggores-gores di dalam lambung, lalu merewet pada ulu hati serasa diremas keras-keras, pasti ini semua biang keladinya Mbah Darto, sebab kemarin malam Wak Akom sangat berantusias mengajak warga lain untuk mengusir Mbah Darto dari kampung, ketika sedang berkumpul di warung kopi dengan menghabiskan bergelas-gelas kopi hitam. Ah, mungkin saja rasa sakit itu akibat kelebihan minum kopi, Wak?

Sebulan yang lalu, selepas beribadah dari surau, Parimin selalu menyempatkan diri meludahi pekarangan rumah Mbah Darto. Tak elok bila pekarangan rumah dukun santet ditumbuhi bunga-bunga, hanya air liur atau dahak yang pantas untuk menyiram bunga itu karena akan menyebar bau jadah! Dukun santet itu hanya akan mengundang aib bagi seluruh warga kampung, kata Parimin melengos pergi. Namun setibanya Parimin di rumah dan hendak membuka palang pintu, entah penyakit dadakan apa, tiba-tiba saja ia muntah darah.

Halimah, bunga desa di kampung itu suatu kali pernah digoda oleh Mbah Darto. Setiap ia berjalan sendirian di pagi hari hendak membeli seikat sayuran, gadis cantik itu selalu dikerlingi mata Mbah Darto yang penuh hasrat. Tak tahan atas perlakuan itu, Mbok Simah mendatangi rumah Mbah Darto dengan membawa seikat umpatan, “Najis! Dasar duda tua, belum lama ditinggal mati Mak Rat, sekarang sudah mau mengawini gadis perawan ting-ting. Jangan harap anak gadisku sudi dipersunting dan melahirkan keturunan dari seorang dukun santet!” bentak Mbok Simah. Selang beberapa hari setelah kejadian itu, perut bunga desa itu pun semakin lama semakin membuncit dan terkesan akan meletus.

Kemudian dari cerita yang lain, suatu waktu Mbah Darto pernah beradu mulut dengan para rentenir, ketika itu Mbah Darto dipaksa menyerahkan rumah beserta seluruh isinya karena terjerat utang-piutang. Selain harus melunasi utang-utangnya, ia juga harus membayar beserta bunga yang telah menumpuk. Dulu perjanjiannya, bila dalam waktu tiga bulan utang-utangnya tak segera dilunasi, maka rumahnya akan disita sebagai barang tebusan.

Sudah dari dulu mereka bolak-balik menagih dan mendatangi rumah Mbah Darto. Tapi tetap tak dilunasi juga. Bukan keinginan Mbah Darto bila harus meminjam uang pada lintah darat, tapi keadaan yang mendesaknya, sebab ia hanya hidup sendiri dengan menghabiskan masa tua tanpa sebuah penghasilan. Bukankah ia sudah dibenci seluruh warga bahkan oleh anaknya sendiri sekalipun? Siapa lagi yang akan memberinya sesuap nasi selain melalui caranya sendiri, meskipun ia tahu keputusannya ini tidaklah tepat.

Tanpa rasa takut sedikit pun, Mbah Darto berani melawan para rentenir yang bertubuh kekar itu. Akhirnya mereka lari tunggang langgang ketakutan melawan Mbah Darto, sebab diancam akan membunuh mereka dengan ritual samber nyawa; membaca mantra-mantra menggunakan tumbal darah ayam hitam.

Semua warga tak ada yang berani lagi mengusik ketenangan Mbah Darto. Nyali mereka ciut takut-takut terkena guna-guna. Oh, bukan itu yang Mbah Darto harapkan, bukan pengucilan, bukan pengasingan, hanya kesepian yang akan ia dapatkan. Terkecuali bila ia sedang mengasuh Tole cucunya itu. Hanya anak kecil itu yang selalu menemani kesehariannya. Sedangkan Lik Muji, sudah barang tentu tak mau berucap sepatah kata pun pada Mbah Darto meskipun berada dalam naungan atap yang sama. Bahkan urusan makan sekalipun. Seolah meja makan terpisah menjadi dua bagian.

Ahoi, pamali itu... Bukannya membalas dengan madu setelah dulu dihidangkan susu, malah tuba yang ditumpahkan pada ayahnya. Tapi siapa yang bisa menyembuhkan penyakit hati Lik Muji yang kelewat sakit. Tatkala Lik Muji hendak mengambil air timba di belakang rumah, alangkah terkejut bagaikan disambar petir siang bolong, dengan mata kepala sendiri ia melihat sosok tubuh anak kecil yang tergantung di pohon. Tole... Lidahnya biru terjulur.

***

Suasana rumah Mbah Darto masih berkabung. Fajar menyingsing. Matahari mengintip di pucuk gunung. Tanpa mempertimbangkan waktu yang tepat atau tidak, lintah darat itu kembali menagih setumpuk utang Mbah Darto. Saat itu Lik Muji masih berada di pemakamanmenangisi; menjaga tanah pekuburan anaknya dari semalam. Hanya para tetangga yang selintas menyaksikan kembali adu mulut Mbah Darto dan para rentenir. Hingga semuanya selesai ketika para rentenir itu masuk ke dalam rumah Mbah Darto dan keluar lagi sambil mengulum senyum sinis. Rumah Mbah Darto kembali sunyi.

Pintu rumah itu masih terbuka. Hingga menjelang tengah hari, Lik Muji pulang dan berniat akan membunuh ayahnya saat itu juga. Ia ingin mengakhiri silsilah keluarganya yang mati kehilangan kepala. Tapi ia kembali dikejutkan saat setibanya di rumah, ia melihat Mbah Darto sudah tak bernyawa. Mayatnya pun tanpa kepala.

Bandung, Juni 2012

Penyamun Anyir


SEPASANG MATA masih mengawasiku. Begitu nyalang. Tatapannya melirik tajam. Bersurukan laiknya seorang pengintai. Tak pernah terpejam. Tak lengah sepicing pun. Apalagi berpalis muka. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Bak denyar halilintar. Menyorot merah padam. Seperti mengungkapkan amarah. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. Sambil mengerakahi bibir sendiri, mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan.
            Bukan hal aneh bagiku. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Ia bukan seorang mata-mata. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Anak kecil berumur sepuluh tahun, tanpa pernah mengenal bangku pendidikan, pengamen memang cocok untukku. Sedang ia, seorang preman menyambi penjudi. Tapi sialnya, ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. Selalu kalah. Bila uang taruhannya habis, yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. Memalak uang mereka. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Begitulah pekerjaannya.
            Sepasang mata itu milik Bang Jali, seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. Perawakannya pendek. Memiliki tanda gores di wajah, mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. Terpapar renyuk. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. Luka rebak itu hasil sabetan parang, kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya, sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. Padahal ia bukan tentara, meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat, membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas.
Di depan warung nasi milik Bi Inah, ia duduk bertinggung menatapku. Sebenarnya, sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Katanya merusak suasana kota, atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas, sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. Di bawah warung itu mengalir air selokan, biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh.
“Bila besok ibu tidak mengosongkan tempat ini, maka kami akan meratakannya dengan tanah. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu.
“Apakah saya tidak punya hak berjualan di kota ini?”
“Bukan begitu, nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat, tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. Semacam tukar beli.”
            Namun nyatanya, hingga sekarang, warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. Alasannya sederhana, bila warung itu dimusnahkan, maka para preman akan melakukan perlawanan. Hingga titik darah penghabisan. Memang, tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. Bukan hanya para preman saja, pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih, mereka selalu memesanan makan disitu.
Hari ini langit cerah. Terik matahari meyorot panas. Di jalan, mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. Menerpa pada mata setiap orang. Dan entah berapa lama ia menatapku. Mungkin sejam lebih. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang, ia datang menghampiriku. Menyunggingkan senyum kecut, “Heh Udin, Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. Ah, pertanyaan yang memuakkan. Pastinya uangku akan dirampas.
“Hari ini aku belum dapat uang Bang.”
“Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya.
            “Beneran Bang, hari ini sepi.” jawabku.
Sudah seharian aku mengamen di jalan. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Bukan karena aku malas, melainkan hari ini bukan hari libur. Jalanan tampak sepi. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di stopan lampu merah perempatan jalan Dago, tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen, dan aku hanya mengamen pada sebuah mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Bila mendapat banyak uang pun, hasil kerja payahku itu, selalu dirampas olehnya dengan dalih, “Ini daerah kekuasaanku, kalau ingin tetap mengamen disini, uang hasil mengamenmu kita bagi rata.” Padahal, ia tak pernah ikut mengamen, hanya duduk mengawasi kami—maksudku, aku dan pengamen lain. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya.
Ia tetap tidak percaya pada alasanku. Hingga menggeledahi kantong celanaku. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku.
“Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Kalau mau ngamenmu laku, jangan pakai kecrek, pakai alat musik lain seperti gitar, biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas.
Aku hanya diam tertunduk. Bila di pikir-pikir, tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. Ya, selain berjudi, pekerjaannya tak lain seorang pemalak. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. Berotot besar tapi nyali secuil, hanya berani pada anak kecil.
Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri, teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di bus kota. Tiap hari rokoknya ludes, bukan oleh pembeli, melainkan dipinta paksa si penyamun anyir. Bukan hanya itu saja yang dipintanya, pernah suatu ketika Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir, sekembalinya Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya.
“Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan.
Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju.
Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orang tuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan. Seandainya doaku bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku.
Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak.
Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan.
Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku.
***
SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Tiba-tiba saja dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah.
Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. Bi Inah… teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang.
“Apa-apaan ini? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya.
“Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah.
            Bagi aku yang berumur sepuluh tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya?
Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya.
Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu,  si penyamun anyir datang dan memukul kepalanya dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi.
Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.

Bandung, Desember 2011

Perempuan Pemimpi



Dimuat di Haluan Padang, Minggu 15 April 2012

Lelaki buruk rupa berdiri mematung di hadapanku. Aku yakin, ia orang yang akan menjadi suamiku. Tidak salah lagi, meski baru bertemu dengannya, namun aku hapal seperti apa orang yang kelak akan menjadi suamiku. Melalui mimpi. Dalam mimpi itu, aku menikah dengan seorang lelaki berkulit hitam, kepala pelontos dengan hidung yang melesak ke dalam, belum lagi telinganya: jebang. Seperti ciri-ciri lelaki ini.
Hanya dalam mimpi, aku bisa meramal masa depan. Seolah kejadian yang belum terjadi dalam hidup, akan tampak dalam mimpiku. Oleh karenanya, aku sangat yakin bahwa lelaki yang sedang aku lihat ini yang akan menjadi suamiku.
Aku tidak pernah salah dalam menafsirkan mimpi. Karena keajaiban mimpi itu, aku bisa bertemu dengannya di Stasiun Gambir. Dalam mimpiku itu diceritakan, bahwa ia berasal dari Surabaya, datangnya menggunakan kereta ekonomi, mengenakan baju lusuh dengan peluh mengental di lehernya. Ternyata lelaki yang berada di hadapanku ini baru saja turun dari kereta. Aku langsung memeluk lelaki itu seperti sudah mengenalnya. Bagaikan seorang perempuan yang menunggu kepulangan kekasihnya yang telah lama tak bertemu. Membuatnya terkejut mendapati dirinya dipeluk oleh perempuan yang tak ia kenal.
“Akhirnya kita bertemu juga...” aku berteriak histeris sambil memeluknya, “Sudah lama aku menunggumu disini.”
Lelaki itu diam sejenak memandangi wajahku, menatap lekat-lekat binar cahaya kedua mataku yang tampak berkaca-kaca karena bahagia. Dengan sedikit gelagapan ia tampak kikuk, “Maap, mbak kayanya salah orang, aku bukan orang yang mbak tunggu.” katanya. Lalu dipandanginya orang-orang sekitar yang turun dari kereta, sepertinya tak ada orang yang mirip dengannya.
“Mana mungkin aku salah!” teriakku lagi. “Apa kau tidak mengenaliku?” aku bertanya, yang pasti jawabannya sudah dapat kutebak bila ia akan barkata, “Ya, aku tidak mengenalmu!”
Lelaki itu kembali angkat bicara, “Aku tidak punya kenalan disini, aku hanya perantau yang sedang liburan di kota ini.”
Tidak. Aku tidak salah orang. Aku telah hapal wajah orang yang akan menjadi suamiku—yang dalam mimpiku orang itu berwajah buruk rupa—dan menurutku, hanya orang inilah yang wajahnya paling buruk diantara ribuan wajah para penumpang kereta di Stasiun Gambir.
“Sudah mbak jangan memelukku terus, aku tidak mengenal siapa mbak, mungkin orang yang mbak tunggu wajahnya mirip denganku?” lelaki itu kemudian mencoba membuka eratnya pelukanku, pastinya dekapanku membuatnya merasa tak nyaman.
“Jangan lepaskan pelukanku.” cegahku sambil terus memeluknya.
Ia kembali diam. Berdiri mematung dan menarik kepalanya kebelakang sedikit menjauh dari wajahku. Membuat dadanya yang bidang semakin keras menempel di dadaku. Ternyata kami memiliki tinggi tubuh yang sama. Sejajar dengan jendela kereta. Napas yang dikeluarkan dari hidungnya begitu sangat tak teratur. Aku tahu ia pasti sangat gugup. Mungkin baru pertama kali ini ia dipeluk oleh seorang perempuan. Dengan wajah buruk rupa itu, mana ada orang yang mau menjadi kekasihnya dan memeluknya erat-erat. Tapi kenyataanya sekarang, seorang perempuan sepertiku mau memeluknya. Sekadar untuk meyakinkan bahwa aku adalah istrinya nanti.
Tidak. Aku tidak salah memeluk orang. Kulit wajah lelaki yang sedang kupeluk ini benar-benar hitam. Tak ada bedanya dengan warna gerbong kereta tua yang telah berkarat. Namun bedanya,  lelaki ini masih muda meski terlihat tua. Ada tiga gerat menggumpal pada keningnya, matanya semakin nyalang setengah terpicing, kedua bulu alisnya saling beradu, menandakan ia mulai geram oleh tingkahku karena langsung menyambar tubuhnya itu dengan pelukan.
Melihat gelagatnya yang mulai risih dan melakukan sedikit perlawanan, aku kembali bertanya, “Siapa namamu?” sambil melepaskan pelukan.
“Sudah saya katakan, mbak salah orang, buktinya mbak tidak tahu nama saya kan?” jawabnya sedikit membentak.
“Aku belum tahu namamu, tapi wajahmu selalu ada dalam mimpiku.”
“Maksud mbak?” ia sekarang yang bertanya.
“Aku selalu bermimpi bahwa kau akan menikah denganku.” tegasku yang dibalasnya dengan gelengan kepala.
Meski telah kujelaskan perihal bahwa aku bisa meramal masa depan melalui mimpi, namun lelaki itu tidak percaya bila ia akan menikah denganku. Sudah setengah jam kami berdiri berhadapan disitu, tanpa pernah menghitung berapa kereta yang datang dan pergi dari stasiun itu, atau merasakan tatapan aneh dari orang-orang yang lalu lalang karena melihat kami saling baradu mulut. Mungkin dalam pikirannya sekarang hanya terfokus pada satu titik: ia ingin pergi jauh-jauh dariku. Aku tidak akan membiarkannya kembali menaiki kereta yang akan membawanya menghilang. Tujuanku datang kesini, hanya untuk menjelaskan pada lelaki buruk rupa ini, bahwa ia akan menjadi jodohku. Ditambah lagi harapanku untuk segera melangsungkan resepsi pernikahan. Namun ia selalu saja menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
            “Aku adalah istrimu nanti,” kataku lagi, “Di masa depan, kita adalah sepasang suami istri.”
“Berarti kita akan menikah?” ia kembali bertanya.
“Ya!” jawabku singkat sambil menyunggingkan senyum.
“Bagaimana kita akan menikah, sedangkan kita tidak pernah mengenal satu sama lain.” jawabnya.
            “Tapi aku telah mengenalmu.”
            “Dimana? Kita baru bertemu.”
            “Setiap malam kita selalu bertemu melalui mimpi-mimpiku.” aku membantah.
“Mbak jangan mengada-ngada!” jawabnya dengan nada menggertak.
            Aku telah mencoba menjelaskan berkali-kali tentang ramalan masa depan yang telah kubaca, dan masa depan itu akan bisa aku ketahui ketika sedang tidur, melalui mimpi. Mimpiku selalu mengisahkan lelaki buruk rupa inilah yang akan menikahiku.
“Kaulah jodohku, kumohon percayalah…” aku merengek. Tetapi lelaki itu tetap tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. Padahal, hampir setiap malam, aku selalu bermimpi akan dinikahi oleh seorang lelaki berkulit hitam, kepala pelontos dengan hidungnya yang melesak ke dalam, belum lagi telinganya: jebang. Aku yakin betul mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Sudah lama aku memiliki kekuatan meramal masa depan hanya dengan tidur dan bermimpi. Akibat kekukatan mimpi itu, orang-orang selalu bertanya padaku, mereka selalu bertanya entah itu masalah jodoh, bisnis, politik, bahkan masalah kematian sekalipun. Aku bisa meramalnya. Hasilnya selalu tepat.
Tak bisa disangsikan lagi, keakuratan ramalan mimpiku memang tidak pernah salah. Semuanya bermula ketika aku percaya bila mimpi itu bukan hanya sekadar bunga tidur. Semuanya bisa menjadi kenyataan bila aku mempercayai mimpi itu akan benar-benar terjadi. Bahkan seorang peramal pun bisa manfsirkan mimpi orang-orang dengan caranya masing-masing; entah itu lewat kartu tarot, garis tangan atau jalan cerita mimpi tersebut. Tetapi aku tidak perlu menafsirkan mimpiku, karena cerita mimpiku tidak absurd. Semuanya mengalir begitu saja. Jalan cerita mimpiku akan sama dengan kejadian yang akan menimpa hidupku.
Tetapi, beberapa minggu yang lalu, aku selalu bermimpi tentang jodohku. Entah karena sebelum tidur aku selalu memikirkan siapa yang akan menjadi jodohku. Aku selalu percaya perkataan kedua orang tuaku yang selalu memberikan nasihat, “kamu adalah apa yang kamu pikirkan, dan bila kamu selalu memikirkan tantang jodohmu sebelum tidur, maka kamu akan memimpikan seperti apa jodohmu itu.” Hasilnya, setiap aku tidur, aku selalu bermimpi dinikahi seorang lelaki buruk rupa, seperti lelaki yang sekarang ada di hadapanku. Apa mungkin dalam lubuk hatiku, aku ingin dinikahi oleh lelaki seperti itu? Yang pasti, aku begitu menikmati mimpi itu.
            “Aku adalah istrimu nanti, kita adalah sepasang suami istri dimasa depan.” kataku yang berjanji tak akan mengulangi ucapan itu lagi..
            “Mbak itu perempuan gila, mana mungkin aku mau menikahi perempuan seperti mbak.”
            “Kalau kau tidak percaya, tidurlah denganku.” ajakku dengan senyum manja.
            “Apa mbak seorang perek?”
            “Bukan. Aku istrimu di masa depan.”
            “Terserah!” katanya ketus. Ia lalu melangkah pergi tanpa pernah menoleh ke belakang.
             Usahaku untuk menjelaskan apa yang aku alami dalam mimpi ternyata sia-sia, ia tetap tidak mempercayainya. Apakah karena aku terlalu jujur? Sehingga ia begitu kaget dan memanggilku orang gila yang mengada-ngada tentang apa yang aku katakan. Sebenarnya aku pun tidak ingin dinikahi olehnya. Namun karena ini mungkin sudah ditakdirkan oleh Tuhan, atau oleh mimpiku sendiri, maka aku tidak akan melepaskannya.

***
             KEMARIN hari yang begitu sangat menjengkelkan bagiku. Lebih tepatnya pada kebodohanku. Kenapa aku tidak menanyakan pada lelaki itu, “Kau tinggal dimana?” atau mungkin, “Kau mau tinggal dimana? Mungkin aku bisa mencarikanmu sebuah kontrakan.” mengingat mimpiku semalam yang tidak begitu jelas. Aku memimpikan lelaki itu tinggal di sebuah kontrakan kumuh yang padat penduduk. Mana mungkin aku mengetahui tempat tinggalnya, sedangkan hampir semua kontrakan di kota ini, memang seperti itu suasananya.
            Statsiun ini masih sama seperti kemarin. Lalu lalang calon penumpang kereta begitu menderas. Langit tetap mendung. Guntur menggelegar setiap dua menit sekali. Tampaknya di bulan Desember ini, musim hujan masih belum berakhir. Begitu dingin. Merewet pada setiap kegelisahan orang-orang. Angin berkesiur memecah uraian rambutku. Begitu juga rok mini yang kukenakan; tergerai, terbuka setengah paha. Orang-orang sekilas menatapku. Mungkin di benak mereka mengumpat, “Dasar wanita zaman sekarang, musim dingin seperti ini memakai pakian seperti itu.” Ah biarkan saja, ini gaya hidupku. Tanpa rasa malu sedikitpun, aku akan tetap mununggu lelaki itu datang lagi.
            Aku masih menunggunya. Sebatang rokok yang terjepit di mulutku hampir habis. Lipstik sedikit luntur. Tiba-tiba dari arah jauh, seseorang mendatangiku. Wajahnya sangat kukenal. Tak asing lagi bagiku. Dengan postur tubuh yang pendek, berwajah gelap dan kepalanya pelontos. Aku tersadar ternyata ia lelaki kemarin.
            “Akhirnya kau datang juga padaku.” teriakku.
            Lelaki itu tersenyum, “Apa kau telah mempunyai kekasih?” aku menjawabnya dengan gelengan kepala, dan membalas senyumnya.
            “Berarti calon suami pun tak punya?” ia kembali bertanya.
            “Aku yakin kamulah suamiku!”
            “Kalau begitu, aku akan melakukan kewajiban sebagai seorang suami sekarang juga.”
            Lalu, aku dibawanya ke tempat sepi. Di bawah langit mendung, kami bergumul seperti sepasang suami istri. Kejadiannya begitu cepat. Setelah kami mengenakkan kembali pakaian, ia lantas melangkah pergi. Tampak terburu-buru. Setelah itu, ia menaiki sebuah kereta. Entah kemana.
            Kemudian di menit yang sama, pada sebuah kereta yang lain, aku melihat seorang lelaki turun dari kereta. Wajahnya buruk rupa.

Bandung, Desember 2011

Biola



Dimuat di Buletin LPM Suaka edisi November 2011

Berkesiur angin nampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Senja yang menguning, langit pun seperti terbelah. Tiang-tiang kayu berderet, lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan.
Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu, menanti waktu besuk tiba, sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa mereka tampak murung disini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh, bertembok putih, dengan bangunan bertingkat dua. Disetiap kamarnya; menganga sebuah jendela terbuka, dan pintu hitam pekat. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Namun, setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras, membuat bunga-bunga menjadi layu.
Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu, tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. Kamar yang bernama ruangan melati. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati.
Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu, sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan, dan kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama.
Biola itu punyaku, namun aku datang bukan untuk membawanya. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan, tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. Namun pastinya, pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu.
Kau pernah bilang, jangan berguru pada masa lalu, biarlah semua menjadi kenangan, hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Tataplah masa depan. Kau pun bilang, janganlah mengukur diri melalui cermin, seperti sama padahal tak sama. Semuanya serba terbalik. Kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan, baik menjadi buruk. Lihatlah dirimu melalui hatimu. Sesuatu yang kau yakini indah, itulah yang terbaik. Aku pun suka keindahan. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. Itulah dirimu. Biola jendela hatimu. Katamu.
Sungguh, aku tak mengerti. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. Semuanya buyar. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar, kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah, bukan. Tolol. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. Bukan juga seperti angin. Jendela takkan sanggup menahan hembusan nafasmu, suaramu, dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku.
            Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Tak terjawab. Gelap. Bagaikan duduk berjam-jam diantara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan.
            Aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu, waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Kau bilang, bahwa aku orang yang baik, tak mungkin orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu, lalu menggetarkan hatimu serasa melayang menuju sebuah titik, dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. Keindahan yang keluar dari hatiku.
            “Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur.
“Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit.” jawabku.
“Ya, tapi bila aku mendengarkan suara biolamu, tempat ini tarasa berubah menjadi indah. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. Namun angin itulah yang membawaku melayang.”
            Aku hanya tersenyum. Lantas kau pun tersenyum. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. Menurutku, senyuman itulah yang paling indah. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu, tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. Menyimpanmu di hatiku, lalu kau mengukir namamu disitu, dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti.
Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram, setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Ketika reda di sore hari, hanya meninggalkan angin yang liar, menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung.
Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah, terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang, meski aku berharap kau pun merasakannya. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. Apakah perasaan ini tulus dari hati, atau hanya sekedar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit, sekedar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu.
Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. Diagnosanya mengatakan, bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. Tentu dengan biaya tak sedikit. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal, meski tampak seperti barak pengungsian. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen, karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu.
Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. Bibirku bergetar, rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku, seperti ada yang mengganjal. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. Aku tak bisa berkata, tak tahu harus bicara apa. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Namun, tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman.
Hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja, kau bisa membuatku berpikir. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam, dan berhenti pada setasiun terakhir. Semua orang takkan bisa hidup kekal, tapi perasaanku padamu akan tetap abadi.
            Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. Dan setiap hari itu pula, aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup.
“Hidup ini penuh misteri, hari ini tentunya berbeda dengan kemarin, besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!”
Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah, lebih baik berdiam di belakang peluru itu, namun tetap menelusuri kemana arahnya, supaya tak pernah menembus jantung. Hidup bukan ramalan.
 “Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan, mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu.
“Biarlah hidupku berakhir, aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. Mungkin disitu kau sedang menghayal, menggambar bunga layu menjadi mekar.
“Kau jangan berkata seperti itu, masih banyak yang harus kau kerjakan, apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. Lalu kau menjawab:
“Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini, aku ingin terus mendengarkan suara biolamu  yang indah, sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. Surga!”
Aku lalu menghardik perkataan itu, “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu.
“Aku hanya ingin bilang, lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu, tataplah masa depan.” Sambil membalas tatapanku, lalu kau melanjutkan, “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!”
Diam. Aku bengong. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu, menemanimu setiap waktu, memberikan sesuatu yang terbaik padamu. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi, meski waktu itu kau sedang tertidur, sekedar pengantar mimpi indahmu. Ketika kau benar-benar terlelap, aku mengecup keningmu, kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat, sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu.
Sudah dua hari aku tidak menjengukmu, atau menanyakan kondisi kesehatanmu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu, setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah, aku tak tahu. Yang aku tahu sekarang, kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu, ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan supirnya mengantuk.
Tubuhku remuk, ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah, namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti, di tempat yang paling indah. Surga.

Bandung,  Agustus 2011

Kunang-kunang Kematian



Dimuat di Radar Surabaya, Minggu 17 Juni 2012

Di kampungku, yang lokasinya berada di daerah jawa, bila ada salah satu warga yang mati, maka pada malam kematiannya, secara tiga malam berturut-turut kunang-kunang akan berkeliaran mengudara. Entah kebetulan atau tidak, mereka selalu beterbangan memijarkan cahaya kerlap-kerlip berwarna putih pucat, atau ada juga yang kehijauan. Sebentar bercahaya sebentar redup. Seperti itulah kunang-kunang. Kata warga kampung, mereka percaya bahwa kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang yang mati. Cahayanya yang selalu redup itu berbentuk seperti bekas cakaran, mungkin ingin mencoba mencakar kegelapan menjadi terang oleh kuku orang mati. Namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran.
“Apa orang yang baik tidak butuh cahaya? Apakah cahaya sudah ada melalui amal baiknya? Sedangkan yang tidak baik masih membutuhkan cahaya, bukan melalui amal baik malah dari cahaya kunang-kunang?” tanya salah seorang warga, beberapa hari yang lalu.
“Cahaya kunang-kunang itu berasal dari zat luciferin, mungkin ada hubungannya dengan Lusifer para setan neraka.” jawab Pak RT.
“Berarti bila kita mati nantinya akan menjadi iblis toh?” ia kembali bertanya.
“Bila sampean mati membawa amal buruk pasti bakalan seperti itu,” timpal yang lain.
“Tidak baik percaya sama tahayul.” bantah seseorang yang tidak setuju.
“Sampean tak percaya? Kualat loh!”
“Manusia dan iblis itu beda, tapi sama-sama mahluk ciptaan Gusti Allah!”
“Mbuh!”
Pada waktu itu aku tidak ikut melibatkan diri dalam obrolan-obrolan mereka, padahal mereka selalu sibuk membicarakannya bila ada warga yang mati. Entah sejak kapan mitos itu ada di kampungku, mungkin pada zaman dulu para leluhur jawa kuno selalu mengingatkan untuk melakukan amal baik terhadap sesamanya ketika hidup, bila matinya meninggalkan amal buruk maka kukunya akan menjelma kunang-kunang untuk mencari cahaya setelah dikubur. Dan sekarang hampir seluruh warga—dari mulai anak kecil, dewasa, hingga para orang tua—sudah tidak asing lagi untuk mengetahuinya.
Malam ini di luar nampak rembulan telah matang, langit semakin gosong, disana ada ribuan bintang bercahaya seperti segerombolan kunang-kunang yang beterbangan di pekarangan rumahku, seolah ada yang mengundang kedatangan mereka. Lantas siapakah orang itu? “Apakah sekarang ada warga yang mati dengan buku catatan amal di tangan kirinya?” tanyaku bergumam. Ah, kenapa aku malah ikut-ikutan menyangkut-pautkannya dengan mitos itu.
Kunang-kunang itu masih berkeliaran di antara pepohonan, tanah tandus yang di penuhi rimbun semak, bahkan ada satu kunang-kunang yang hinggap di jendela kamarku, lalu ke tanganku, sepertinya ia menyukaiku, atau akan menjemputku pada kematian. Pasalnya, selain mempercayai mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati, orang-orang juga percaya bila ada salah satu warga yang dihinggapi kunang-kunang maka ia akan mati. Kunang-kunang itu penjemput kematian.
            Aku tidak begitu percaya pada yang namanya mitos. Tahayul. Mungkin karena sewaktu kecil aku rajin mengaji, ilmu yang pernah aku dapat bahwa orang yang mati arwahnya langsung ditempatkan oleh Tuhan, entah dimana, aku lupa lagi, sebab sudah sepuluh tahun aku tidak menuntut ilmu agama. Aku malu pada namaku yang selalu di sebut-sebut sebagai jawara kampung tak terkalahkan di usiaku sekarang yang masih berumur 27 tahun. Hingga namaku kian santer terdengar ke kampung-kampung lain.
Yadi Jopang, begitulah mereka menyebut namaku. Ketika nama itu disebut, orang-orang yang mendengarnya pasti bakal menutup pembicaraan mereka lalu pergi dari orang yang menyebut namaku. Atau mengunci rapat-rapat pintu rumah mereka bila aku berteriak-teriak di sekitar kampung pada larut malam yang tengah menikmati minuman memabukan. Di telinga mereka, suaraku bagaikan aungan singa jantan yang hendak berburu karena kelaparan.
Mereka mulai segan dan takut padaku ketika pada suatu hari di kampungku pernah terjadi sebuah bentrokan warga antar kampung. Kala itu kampungku diserang warga kampung sebelah. Mereka datang dengan membawa berbagai parang ditangannya. Penyebabnya berawal ketika Taryo, salah seorang warga kampungku yang kepergok sedang bergumul dengan istri warga kampung sana, dan bukan untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu. Aku sebagai sahabat Taryo tentu membelanya, dengan cara melawan warga kampung sebelah dan bisa mengalahkan mereka yang membawa kapak atau sebilah belati hanya dengan tangan kosong.
Ternyata senjata mereka tidak bisa melukakiku, hanya rasa gatal saja ketika para jawara kampung lain pernah menancapkannya ke leherku. Kenapa? Sebab sudah lama aku menuntut ilmu kanuragan pada salah seorang dukun. Ia bilang, tubuhku akan tahan senjata apapun asal tiap malam menyulut kemenyan di bawah jendela kamar dan beberapa syarat lainnya; jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, menjauhi Tuhan, dan memuja kepada setan. Bila mematuhi semua syarat itu, maka hanya dengan membacakan mantra Yaahu jabardas-jabardis yartatas keris Soleman, den keya keris mengkana landhepe tangan ingsun lalu tangan kanan menggebrak tanah, seketika itu puluhan lawan akan terpelanting, kocar-kacir tak karuan.
Lamunanku dikejutkan oleh Joko, sahabatku yang berbadan gemuk dan warna kulitnya hitam legam dengan di penuhi tato menjarah di kedua lengannya. Ia datang dari balik jendela dengan raut muka yang pucat menjadi seperti warna lampu neon kamarku. Langkahnya yang terburu-buru dan napasnya masih terengah-engah, aku tahu ia pasti membawa kabar buruk.
“Yadi, kampung kita digegerkan dengan kematian Taryo.” katanya yang berdiri di ambang jendela terbuka.
“Apa! Taryo mati? Tapi mengapa kematiannya begitu menggemparkan warga kampung?” tanyaku dengan mata melotot dan terkejut.
“Kematiannya itu telah mengundang banyak kunang-kunang, mereka takut dijemput kematian.” jawab Joko.
            “Ia mati kenapa?” tanyaku lagi.
            “Dikeroyok warga kampung sebelah, karena selalu menjaili wanita sana,” jawab Joko. Lalu ia melanjutkan ucapannya, “Sebagai sahabatnya, apa yang harus kita lakukan?”
“Entahlah,” jawabku yang masih tak percaya keadaan ini.
Jadi perihal kunang-kunang yang berkeliaran malam ini di sebabkan karena Taryo mati, orang yang butuh cahaya, orang yang kurang beramal. Aku tak habis pikir kenapa kunang-kunang itu hinggap ke tanganku? Apa benar tentang mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati dan yang dihinggapinya akan ikut mati? Soalnya kemarin ada kunang-kunang yang menempel di punggungnya. Ah, aku masih tetap tak percaya. Tapi bila itu jelmaan Taryo, berarti ia meminta tanganku membalaskan dendam pada warga kampung sebelah. Itu sebabnya kunang-kunang hinggap di tanganku. Pikirku.
“Lebih baik kita bunuh saja warga kampung sebelah, kita harus balas dendam!” katanya lagi antusias.
“Kau saja, aku takut seperti Taryo!”
“Kau takut mati? Bukankah kau tidak bisa dibunuh!” tanya Joko kembali.
            “Tadi ada kunang-kunang hinggap di tanganku, aku takut kunang-kunang itu penjemput kematian.”
“Ha ha... Goblok! Mati itu di tangan Tuhan, bukan melalui kunang-kunang!”
            “Jangan bicara Tuhan, hanya mengingatkanku pada kematian!” kataku dengan nada menggertak. Lalu ia beralasan:
“Bukankah tubuhmu kebal terhadap senjata? Dulu pun kau bisa mengalahkan sepuluh jawara yang membawa parang hanya dengan tangan kosong.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum kecut lalu menengadahkan kepala  ke atas dengan menggertakan gigi, dan mengepalkan tangan.
***
Siang yang panas, cuaca begitu terik membuat wajah orang-orang menjadi seperti pantat kunang-kunang yang bercahaya, dan rawa-rawa telah lama mengering. Tapi tidak pada suasana rumah Taryo yang sedang berkabung. Isak tangis, derai air mata, masih mengalir dari para keluarganya. Ia yang semasa hidupnya lekat dengan dosa, kini telah berpulang meninggalkan dunia. Aku berada di rumah kecil itu bersama Joko, sekadar mengucapkan kalimat bela sungkawa, dan mengamati para pelayat dengan wajah yang di sedih-sedihkan. Aku tahu kesedihan mereka bukan karena kematian Taryo, melainkan karena kegelisahannya terhadap kunang-kunang. Bahkan tak sengaja kami mendengar dari salah seorang pelayat mengatakan bahwa kematian Taryo hanya penyebar kunang-kunang—kematian.
“Nanti malam pasti kunang-kunang akan semakin banyak berkeliaran, mengingat kelakuan Taryo yang tidak baik, pasti ia membutuhkan banyak cahaya, semoga tidak hinggap pada kita saja, kunang-kunang itu penjemput kematian.” kata pelayat itu.
“Lebih baik kita musnahkan saja mereka, biasanya mereka bersarang di tempat-tempat yang tandus dan berawa.” jawab yang lain.
“Tapi alangkah baiknya bila kita berdoa untuk Taryo, kasihan!” aku menimpal obrolan mereka. Namun sepertinya ucapanku itu tak dihiraukannya.
 Jujur, aku sedikit emosi, apalagi setelah mendengar dari omongan seluruh warga, ternyata mereka telah sepakat nanti malam akan menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Lantas bagaimana acara tahlilan dan yasinan? Bukankah warga kampung mempunyai tradisi setiap malam mendoakan orang yang mati supaya arwahnya merasa tenang? Apakah menangkap kunang-kunang lebih penting ketimbang mendoakan Taryo? Bila mitos kunang-kunang itu memang benar, dan tak ada yang berkeliaran, mungkin ia akan kekurangan cahaya di alam sana.
“Setuju...”
“Kami semua setuju…”
“Malam ini kita harus menangkap semua kunang-kunang!” teriak semua warga bersamaan.
            “Basmi...”
“Bunuh...”
“Basmi semua hingga tak tersisa. Kami tidak ingin mati!”
Aku mendengar kerumunan warga yang berteriak di lapangan. Sepertinya kunang-kunang sudah mereka anggap sebagai Tuhan, mereka pikir kematian bukan lagi kehendak Tuhan, mereka sudah terlalu mempercayai mitos itu. Namun satu pertanyaanku, bila kunang-kunang berhasil dimusnahkan, apakah mereka bakal terhindar dari kematian? Bakal hidup abadi? Mereka menganggap Tuhan sudah mati. Bahkan Taryo yang telah mati pun mereka anggap sampah, penyebar bencana, pembawa sial, dan itu yang membuatku benci kunang-kunang. Aku tidak akan mati meski telah dihinggapinya. Hidup dan matiku kehendak Tuhan.
***
            Malamnya aku datang membalaskan dendam pada kampung sebelah, melakukan kerusuhan dengan melemparkan api ke rumah-rumah warga kampung itu yang terbuat dari bilik kayu dan mudah terbakar, membuat kampung itu menjadi merah, seperti neraka, api di mana-mana, dan tentunya hati mereka pun terbakar dengan mengacung-acungkan ancam sebuah parang ke arah kami.
“Tangkap mereka…”
“Kita bunuh mereka…” teriak seluruh warga.
Mereka berlari mengejar kami, seperti halnya warga kampungku yang sekarang sedang menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Melihat situasi seperti itu, raut muka Joko menjadi pucat, bahkan aku sendiri pun langsung berlari menjauhinya, dan melesapkan diri di balik semak tak jauh dari sana. Entah kenapa kekuatanku tidak lagi melindungiku, hanya darah yang bercucuran di mana-mana: kepala, tangan, dan baju yang aku kenakan pun robek terkena sayatan sebuah belati.
“Apa karena siang tadi aku menginginkan warga kampungku supaya mendoakan Taryo? Tentunya meminta kepada Tuhan.” bisikku dalam hati. Tanpa sadar aku telah melanggar pantangan dari dukun itu dan kembali mengingat Tuhan.
Di balik semak-semak itu aku hanya bisa mendengar suara Joko yang melolong kesakitan meminta pertolongan: Aduh, ampun, sakit, hentikan, dan terakhir ia berteriak memanggil namaku. Dan setelah itu hening, tak ada suara. Sial. Kenapa di saat seperti ini kekuatanku malah lenyap. Aku hanya bisa bersembunyi ketika sahabatku dikeroyok, mungkin hingga tewas. Kurasakan lututku bergetar, mungkin aku juga takut, pastinya setelah ini giliranku yang menjadi santapan para warga yang geram dengan parang tajam di tangan mereka.
Sekelimunan orang masih mencari tempat persembunyianku. Aku membayangkan apa jadinya bila aku tertangkap? Mungkin tubuhku diseret, pentungan dan parang tajam akan mendarat di tubuhku—bernasib sama seperti Taryo dan Joko—mati di tangan amukan massa.
“Apakah aku akan mati di tangan mereka?”
“Apakah kematianku telah di jemput kunang-kunang?”
Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang sekarang sedang berkecamuk di pikiranku. Aku berharap mitos itu hanya bualan belaka. Aku tidak ingin mati. Kini yang aku bisa hanya meminta perlindungan Tuhan, bukan pada kekuatan yang tiba-tiba hilang. Aku mengintip mereka melalui celah semak-semak, jumlahnya sangat banyak, mungkin ada puluhan orang yang membawa parang serta pentungan yang siap di arahkan pada tubuhku. Inikah yang di rasakan Taryo dan Joko? Menikmati saat terakhir menghela napas dengan penuh dosa. Kini selain aku percaya pada perlindungan Tuhan, aku juga percaya pada mitos kunang-kunang. Aku telah di hinggapinya. Dan bila aku mati disini, semoga tidak ada kunang-kunang yang berkeliaran di malam kematianku.

Sumedang, Juli 2011