Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Setelah Hujan


Aku datang menemuimu menjelma hujan
Serupa tombak yang ditikam langit
O, bumi menjadi basah
Lalu mengalir sungai, yang bermuara ke hatimu

Tampaknya, diluar cuaca memberi kabar
Layung terus mendayung mendung
Yang karam dan berlabuh
Di kedua larung matamu

Hujan memang membawa derita
Buktinya, airmataku telah menjadi telaga” katamu

Kemudian, setelah hujan reda
Aku merelakan tubuhku
Hinggap
Di matamu menjadi pelangi

2012

Malam Penghabisan

Aku ingin berlabuh di tubuhmu untuk terakhir kali
Sambil menikmati waktu yang berkarib dengan maut
Malam di selimuti api
Kini terbakar di tubuhku

Malam itu, langit semakin gosong
Terpanggang oleh matangnya rembulan
Saat itulah aku merasakan kehangatan Izrail
Yang berhembus pada nafas terakhir

Seperti angin, kau kerap mengusik bisik mistik
Lalu melelang takdir pada jerit talkin
Yang begitu fasih mengeja maut
Saat malam penghabisan telah kita kekalkan
Dan aku abadi di nadimu

2011

Sehabis Gerimis

Aku kembali mengingatmu di sisa gerimis
Diantara punggung batu yang mengukir namamu
Disitulah, kenangan kita telah terpahat

Atau pada daun kering bagaikan selembar surat
Yang menuntaskan sebuah jejak ziarah
Aku telah menuliskannya sehabis gerimis
Lalu menjadi abadi di kedua mataku

"Aku rindu bersamamu, menyulam ribuan malam dengan tatapan tajam,
namun maut memutuskannya,menjelma sabit membuat matamu terpejam"


Untukmu, aku rela bersetubuh bersama angin
Dengan dingin yang ku cicipi nikmatnya sepi
Dan bila kau tak kembali
Aku menjelma doa untuk menemanimu

2011

Jalan Cahaya

Buya, gerat keriput mukamu, seperti jalan terjal nan retak
O, yang memberi petunjuk hidup


Telah ku khatamkan logat bahasa bibirmu
Terkatung di ufuk lidahmu yang lentur
Bunyi lisan sehalus dawai angin
Adalah syafaat dari Ilahi

Sepertinya aku kembali mengingat percakapan itu
Dialek kudus begitu kental di telingaku
Ajaran sufi yang sangat fatal
Di peradaban paling suci

Di tempat itu, aku sangat menikmati tarian daun pohon sukun
Melayang jatuh di alas kakimu
Disitulah aku selalu menjilati jejak langkahmu

Saat musim kemarau yang panjang
Aku rindu cipratan air sucimu
Sebening embun fajar di daun sejadah
Saat itulah dinding matamu memancarkan sinar pagi
Menjadi cahaya dalam tajug suci

Mengarah kiblat
Ku telusuri punggung sujud paling khusuk
Begitu membungkuk di tubuhmu yang renta
Pantulan marmar tercermin aura wajahmu
Lalu, ku namai kau sang pewaris nabi

Setelah tiga tahun singgah di tempat itu
Terjadilah perpisahan sederhana
Dan berakhirlah pemujaanku

Sekarang, ku awali pengembaraan baru
Tiba-tiba aku menjelma sebagai pendosa
Mizan yang menimbang hampa langkahku
Keagungan maghrib kini luntur di darahku
Menjadi pekat melebihi sayap gagak
Membuat awan kelabu hatiku
Melaju pada lukisan senja yang murung

Kini batu Ababil telah menancap tamat di keningku
Melupakanmu adalah jalan yang sesat
Pengembaraanku yang berujung luka
Terlalu memuja tarian api
Kini terbakar di tubuhku

Aku bagaikan rengekan bayi Ismail
Tergeletak panas di padang arafah
Namun akan ku cari mata air suci

Sekarang aku ingin kembali meneguk aroma nafasmu
Sebab aku yakin kau fasih melafadzkan tasbih
Begitu khidmat!
Pemberi bai’at bagi aku yang bertaubat

2011

Pembaringan Terakhir

Dibukukan Dalam Antologi Bersama "Nyanyian Anak Negeri (Pustala Adab:  2011)" 

-untuk ayah

Pada malam penghabisan itu
Aku masih melihatmu
Tertidur abadi dibalut selembar kafan
Maut yang begitu pekat di keningmu;
Seperti mengekalkan ajal pada pembaringan terakhir

Pada malam penghabisan itu pula
Kunang-kunang semakin liar mengudara
Bagai kuku matimu mencakar cahaya
O, langit menjadi semakin berkarat
Kini menjelma pada kerutan tubuhmu

Akan ku tahlilkan: Aku di sini, di ruangan ini, masih melafadzkan
Tasbih yang dikirim bersama segumpal awan.

Dengan begitu, gerimis tidak lagi mengalir di mataku
Dan daun-daun yang bergaris keriput
Bukan satu-satunya tempat embun menetes


Lalu burung-burung menjerit dengan kibasan sayapnya

Sepertinya malaikat sedang menunggumu dibalik pintu
Sedang aku yang terus mengingat bayangan hidupmu
Masih bertahlil hingga ritual sakral berakhir

Tubuhmu kini bersandar pada kesetiaan bumi
O, yang dibalut kafan

Ingin ku buka dan mengecup keningmu
Dan merajut kembali rambutmu dengan doa

2011